xxx

NavBar

Search This Blog

coolesr

Text

Tampilkan postingan dengan label Berita-Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita-Berita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

Oleh: Fasmawi Saban 
Menarik untuk dicermati, sajian data yang dihimpun oleh Pusat Pengujian Balitbang Depdiknas menunjukkan, bahwa rata-rata NEM SD untuk beberapa mata pelajaran masih rendah (Matematika: 5,2, IPA : 6,17). Untuk SLTP ternyata lebih rendah lagi (Matematika: 5,2 dan IPA: 4,85). Begitu pula laporan dari Reading Literacy Study (1994) sungguh mengejutkan, bahwa kemampuan membaca siswa SD kelas IV di Indonesia berada di urutan kedua dari bawah dari sekitar 30 negara, sementara kemampuan IPA SLTA berada di urutan ke-33 dari 39 negara. (The Third International Mathematics and Science Study – Report, 1995).
Mengkritisi berbagai data dan laporan di atas, maka timbul beberapa pertanyaan dalam benak kita. Bagaimana proses pembelajaran yang selama ini berlangsung? Dan bagaimana pula action ‘sang guru’ kita saat di kelas? Pertanyaan ini mungkin menjadi otokritik, tentang sejauhmana para guru telah melakukan inovasi dalam pembelajarannya.
Ditengarai selama ini, masih banyak guru yang belum melaksanakan tugas mengajarnya dengan optimal. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Dr. Soebagyo Brotosedjati mengatakan, “Hingga kini masih banyak guru yang belum memenuhi standar kualifikasi pendidikan. Padahal salah satu kunci keberhasilan pendidikan terletak pada guru”. Menurut beliau masih ada sekira 47,5 % yang belum memenuhi standar kualifikasi sebagai guru.” (Suara Merdeka : 2002). Kenyataan ini begitu memilukan dan menjadi semacam “pil pahit” bagi dunia pendidikan. Sehingga tentu menjadi wajar sajian data di atas bahwa mutu pendidikan kita masih rendah.
Keberadaan guru dalam suatu proses pembelajaran sesungguhnya memiliki peran dan kedudukan yang signifikan. Dr. George Lozanov, seorang peneliti pendidikan dan tokoh Metode Pembelajaran Cepat dari Bulgaria berujar,” Pengaruh guru sangat jelas dalam kesuksesan siswa” (Lozanov : 1980). Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh pencetus Metode Belajar Quching (quantum teaching), Bobbi de Porter (2002) yang berpendapat bahawa guru itu sebagai penggubah keberhasilan belajar siswa.
Kedua pendapat tokoh tersebut barangkali ada benarnya, siswa akan lebih terkembangkan potensi, bakat dan minatnya manakala guru mampu membimbing dan mengarahkannya. Ketika di kelas, sebenarnya guru dituntut tidak hanya sebagai pen-transfer of knowledge ansich tetapi juga mampu memerankan diri sebagai pewaris nilai, pembimbing, fasilitator, rekan belajar, model, direktur dan motivator (Oemar Hamalik : 2001).
Pemahaman di atas bukan berarti guru sebagai sosok segala-galanya dan amat mendominasi. Siswa tetap diperlakukan sebagai subjek belajar yang memiliki kedudukan penting dalam proses pembelajaran.
Dengan berbagai atribut yanng sedemikian mulia namun sekaligus berat ini, maka menjadi sebuah keniscayaan (sine qua-non) bagi para guru untuk senantiasa melakukan berbagai inovasi dalam pembelajarannya. Kemampuan untuk melakukan inovasi ini tentu saja mensyaratkan sosok guru yang kreatif, produktif, cerdas, komitmen tinggi dan tidak merasa puas dengan keadaan yang sudah ada.

Inovasi Pembelajaran

Ketika mendengar kata inovasi, yang muncul di benak kita barangkali sesuatu yang baru, unik dan menarik. Kebaruan, keunikan dan yang menarik itu pada akhirnya membawa kemanfaatan. Pendapat tersebut nampaknya tidak salah, dalam arti manusia sebagai makhluk sosial yang dinamis dan tak puas dengan apa yang sudah ada akan selalu mencoba, menggali dan menciptakan sesuatu yang ‘ baru ‘ atau ‘ lain ‘ dari biasanya, Begitu pula masalah inovasi yang erat kaitannya dengan proses pembelajaran. Di mana proses pembelajaran melibatkan manusia (baca : siswa dan guru) yang memiliki karakteristik khas yaitu keinginan untuk mengembangkan diri, maju dan berprestasi.
Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi batasan, inovasi sebagai pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik berupa gagasan, metode atau alat (KBBI, 1990 : 330). Dari pengertian ini nampak bahwa inovasi itu identik dengan sesuatu yang baru, baik berupa alat, gagasan maupun metode. Dengan berpijak pada pengertian tersebut, maka inovasi pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu upaya baru dalam proses pembelajaran, dengan menggunakan berbagai metode, pendekatan, sarana dan suasana yang mendukung untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Hasbullah (2001) berpendapat bahwa ‘baru’ dalam inovasi itu merupakan apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi.
Menurut Gagne (1975), setidaknya ada empat fungsi yang harus dilakukan guru kaitannya sebagai motivator. Pertama, arousal function atau membangkitkan dorongan siswa untuk belajar. Kedua, expectancy funtion yaitu menjelaskan secara kongkret kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran. Ketiga, incentive function maksudnya guru memberikan ganjaran untuk prestasi yang dicapai dalam rangka merangsang pencapaian prestasi berikutnya dan keempat, disciplinary function bahwa guru membantu keteraturan tingkah laku siswa.
Keempat fungsi tersebut, selayaknya diperankan dengan tepat oleh guru dalam sebuah proses pembelajaran, sehingga diharapkan motivasi belajar siswa semakin lama akan semakin meningkat dan tinggi.

Contoh dan Bentuk Inovasi yang Sederhana

Perlu disadari bahwa pembelajaran merupakan suatu interaksi yang bersifat kompleks dan timbal-balik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Selayaknya siswa diberi kesempatan yang memadai untuk ikut ambil bagian dan diperlakukan secara tepat dalam sebuah proses pembelajaran.
Ditengarai bahwa dunia anak (baca : TK dan SD) merupakan dunia bermain, tetapi acapkali guru melupakan hal ini. Semestinya setiap guru dalam setiap proses pembelajarannya menciptakan suasana yang menyenangkan (fun), menggairahkan (horee), dinamis (mobile), penuh semangat (ekpresif) dan penuh tantangan (chalenge).
Oleh karena itu berbagai inovasi dapat dicoba untuk dikembannngkan walaupun amat sederhana. Beberapa bentuk inovasi yang sempat penulis cobakan, diantaranya:

Pembuatan yel-yel

Yel-yel ini biasanya dilakukan sebelum pembelajaran dimulai, guru mengajak siswa untuk bersama-sama mengucapkan beberapa yel yang telah diajarkan kepada mereka.
Tujuannya :
1. menumbuhkan semangat belajar siswa.
2. menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
3. mewujudkan hubungan yang akrab antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.
Berbagai variasi yel dapat diciptakan oleh guru, dengan mengubah lagu tertentu yang sudah dihapal siswa serta menggunakan kepalan tangan, suara yang bersemangat, mimik muka serta kekompakan siswa dalam pengucapannya.
Penulis membagi pembuatan yel ini dalam dua bagian, yaitu yel-yel kelas, yang memberi semangat untuk pengkondisian kelas sehingga siswa siap belajar (apersepsi dan motivasi), dan yel-yel mata pelajaran yaitu memberi semangat untuk mengikuti pelajaran tertentu.
Di bawah ini, contoh-contoh yel yang telah dibuat dan dilakukan ketika akan dimulai proses pembelajaran.
Contoh Yel-yel kelas
KELASKU….KELASKU….KELASKU
YANG TERBAIKK… OK ! ALLOHU AKBAR !
AKU ANAK SHOLEH !!!!!!! ……………..
DEDEED….DEDEED…..DEDEED……….ALLOHU AKBAR !
Contoh yel-yel mata pelajaran
Pelajaran Matematika
MATE… MATE… MATIKU……MATEMATIKA
AKU SENANG BEL-LAJAR MATEMATIKA
YES !!!! ALLOHU AKBAR !
Pelajaran IPA
IPAAA….IPAA….IPAAA I PE A
ILMU,,,, PENGETAHUAN,,,, ALAM
IS THE BEST , OH YEE… ALLOHU AKBAR !
Pelajaran IPS
IPSSSSSS… IPSSSSSSSSSS…IPSSSSSSSSSSSS…
I LIKE IT …. I LIKE IT, OH LALA…. OH LALA
ALLOHU AKBAR !
Pelajaran Bahasa Indanesia
BI……….BI…………..BI…………………
WOW KERREEEN………ALLOHU AKBAR !
Semua yel-yel selalu diakhiri dengan lafadz takbir, sambil mengepalkan tangan kanan ke atas. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan nilai kepada siswa bahwa semua yang ada di dunia ini adalah kecil, yang maha besar dan maha angung hanyalah Alloh azza wa zalla, pemilik alam semesta dan pemberi ilmu pengetahuan.
Pemberian Reward
Berdasarkan pangalaman di lapangan, anak kelas bawah (baca : SD) amat senang apabila usaha belajarnya dihargai dan mendapat pengakuan dari guru, walaupun amat sederhana. Oleh karena itu, para guru nampaknya jangan terlalu pelit untuk menberikan penghargaan, selama dilakukan dengan memperhatikan waktu dan cara yang tepat. Penghargaan itu sendiri dapat dimaknai sebagai alat pengajaran dalam rangka pengkondisian siswa menjadi senang belajar.
Tujuannya:
1. mendorong siswa agar lebih giat belajar.
2. memberi apresiasi atas usaha mereka.
3. menumbuhkan persaingan yang sehat antar siswa untuk meningkatkan prestasi
Pemberian penghargaan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dan sesuai kesempatan yang ada. Penulis membaginya dalam beberapa macam, yakni dalam bentuk ucapan, tulisan, barang/benda dan penghargaan khusus. Seyogyanya penghargaan ini dapat menjadi kebanggaan siswa akan eksistensi dirinya, yang nantinya meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi diri.
Penghargaan berupa ucapan.
Pemberian penghargaan ini dapat dilakukan dengan direncanakan terlebih daluhu atau bersifat spontan saja. Yang terpenting bahwa setiap siswa yang menunjukkan suatu usaha, maka layak dihargai. Pemberian pujian bagi siswa yang berpatisipasi aktif dalam proses pembelajaran, seperti kata-kata YESS ! (sambil mengancungkan jempol tangan), Excelent (dua jari membentuk huruf V), Thankyou Very Much (kedua tangan diacungkan ke atas) dll.
Penghargaan berupa tulisan.
Hal ini dapat dilakukan setiap hari, ketika siswa mengerjakan tugas atau PR. Penghargaan ini diberikan dengan cara guru menuliskan di buku catatan atau tugas siswa, berupa kata pujian, terutama bagi siswa yang berhasil mendapat nilai bagus (80-100). Kalimat pujian tersebut diantaranya “ selamat, you are the best student “ , “ Alhamdulillah, kamu anak pintar “ , “ pacu terus prestasimu “ ,
Penghargaan berupa barang/benda
Berbagai benda sebenarnya dapat dijadikan alat penghargaan, baik benda yang sudah ada maupun yang telah dimodifikasi/disiapkan.
Penulis misalnya memberikan penghargaan berupa bintang, terbuat dari kertas karton/asturo berukuran kecil bagi siswa yang mendapat nilai tinggi (80-100) baik latihan soal, tugas maupun PR.
Kalung medali pelajaran, terbuat dari gabus yang menyerupai sebuah medali dengan menggunakan tali warna. Medali dibuat khusus untuk setiap mata pelajaran, dan diberikan kepada siswa setiap selesai ulangan harian. Siswa yang mendapat nilai tertinggi dalam ulangan harian berhak menerima medali.
Sewaktu-waktu tidak ada salahnya apabila guru memberikan penghargaan berupa uang jajan, walaupun dengan nilai nominal yang relatif kecil. Bagi siswa terkadang bukan besar kecilnya uang tetapi kebanggaan mendapatkannya dari guru yang dicintainya.
Penghargaan khusus
Penghargaan ini sifatnya spontan dan insidental, di mana siswa yang berhasil menjawab dengan tepat pertanyaan dari guru dimungkinkan untuk istirahat atau pulang terlebih dahulu.
3. Pemberian sanksi
Dalam sebuah proses pembelajaran perlu ada semacam aturan main (rule of the game). Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik, termasuk perlu adanya sanksi yang disepakati bersama antara guru dengan siswa. Tetapi diupayakan dalam pemberian saknsi ini betul-betul bersifat pedagogis (mendidik).
Tujuannya :
1. terwujudnya kelas yang tertib, namun diupayakan tetap menyenangkan.
2. penanaman disiplin kepada anak.
3. mendidik siswa untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan.
Kotak Soal
Dibuat dari bekas wadah susu atau makanan lain, yang berbentuk segi empat, kemudian dibungkus kertas kado, dengan warna yang menarik ditempel di dinding kelas sejumlah mata pelajaran, sehingga setiap mapel memiliki kotak soal tersendiri.
Tujuannya :
mendorong siswa agar senang mempelajari soal sesuai keinginannya setiap saat.
Memberi kesempatan memanfaatkan waktu luang untuk mempelajari soal-soal.
Soal ini dibuat dengan berbagai bentuk, seperti soal cerita, kuis, siapa aku, tanya jawab, dll. Di tulis di kertas asturo atau kertas lain dengan bentuk yang menarik.

Pokjar (Kelompok Belajar)

Siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa, setiap kelompok dipilih satu ketua yang mampu memimpin dan membantu anggotanya.
Tujuannya :
Matih kerjasama antara siswa
Menanamkan jiwa kepemimpinan dan saling membantu
Terjadi pertukaran pengetahuan dan memungkinkan siswa yang sudah paham mengajari teman lainnya .
Dalam pelajaran tertentu, guru memberikan masalah kemudian siswa mendiskusikanya dalam kelompok. Adapun tempat pengerjaannya diserahkan sepenuhnya pada mereka, asal waktunya ditetapkan dengan jelas. Mereka boleh mengerjakan di kelas (in-door) atau diluar kelas (out-door) seperti perpustakaan, halaman sekolah, aula atau mushola.
Bagi kelompok yang berhasil meraih nilai tertinggi dan paling cepat, akan diberi penghargaan berupa bintang kelompok, yang nantinya ditempel di dinding dengan menggunakan gabus berukuran 100 cm x 75 cm. Gabus tersebut diberi tulisan “ Alhamdulillah, Mamah….. Mamah……….. inilah bintang kelompokku………”.
6. Perpustakaan Kelas
Penanaman kebiasaan membaca harus selalu ditumbuhkan. Kehadiran perpustakaan kelas merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan. Berbagai buku yang bersifat ringan dan dapat menggugah kreativitas siswa bisa dijadikan referensi. Majalah Bobo, Annida, Anak Sholeh, buku cerita, kisah sahabat dan petualangan hewan merupakan pilihan bagi mereka.
Tujuannya :
Menanamkan kebiasaan membaca sejak dini, karena membaca adalah kunci pengetahuan.
Memanfaatkan waktu luang secara baik.
Adapun sumber bukunya dapat diperoleh dari sumbangan siswa sendiri yakni membawa buku bacaan bekas dari rumah, membeli atau sumbangan.

Mading Kelas

Kehadiran majalah dinding (mading) kelas menjadi satu terobosan yang cukup baik. Diantara siswa ada yang dipilih menjadi pengurus mading. Mereka ada yang bertugas sebagai pimpinan redaksi, reporter, ilustrasi atau pencari berita.
Tujuannya :
Menampung hasil karya siswa berupa gambar, cerita/karangan, puisi, atau pengalaman pribadi.
Membiasakan siswa untuk menulis, segala ide, impian dan harapan dapat ditumpahkan dalam karya tulis.
Menumbuhkan semangat belajar dan membaca.
Biasanya siswa akan senang, apabila karyanya dilihat oleh teman-temannya. Hasil karya yang ditempel bisa saja sengaja dibuat oleh siswa di rumah atau hasil tugas mata pelajaran tertentu.
8. Setting Kelas
Untuk sekolah yang full day school kemungkinan besar siswa akan merasa jenuh dan capek berada terus di sekolah atau kelas. Oleh karena itu bagaimana menciptakan ruangan dan suasana kelas yang meminimalisir kejenuhan mereka.
Setting kelas dapat dilakukan oleh guru dengan cara penataan ruangan, pemasangan gambar, tulisan yang memotivasi, warna-warni yang menyolok, hiasan yang menggugah poster dll. Contohnya poster dapat ditempel di dinding kelas. Bunyi poster misalnya, “ BELAJAR ITU MUDAH DAN MENYENANGKAN “, “ MEMBACA MENJADI KEBUTUHANKU “, AKU INGIN MENJADI ANAK PINTAR DAN SHOLEH “, “ BELAJAR ITU IBADAH, BERPRESTASI ITU INDAH.”
Setiap minggu sekali, siswa diperbolehkan untuk berpindah tempat duduknya, sesuai keinginan mereka. Papan tulis, setiap semester sekali dapat dirubah posisinya, sesuai kesepakatan dengan siswa.
Mencatat dengan Peta Pikiran
Hasil temuan mutakhir menunjukan bahwa otak manusia memiliki kehebatan yang luar biasa, ada otak kiri dan otak kanan. Untuk mengembangkan kemampuan otak kanan yang penuh dengan imajinasi, siswa diajarkan cara menulis dengan menggunakan peta pikiran.
Tujuannya :
Mempermudah mengingat/menghapal materi pelajaran.
Menulis sambil menggambar disertai warna akan lebih menarik dan tidak jenuh.
Mengembangkan daya imajinasi dan kreatifitas anak.
Guru harus menyusun terlebih dahulu materinya yang sesuai. Siswa diberi kebebasan untuk mewarnai, menggambar dan membuatnya sendiri.
Penggunaan alat peraga
Alat peraga boleh dikatakan sebagai salah satu pendukung kesuksesan pembelajaran, karena dengan media ini biasanya pembelajaran menjadi lebih menarik. Berbagai media dapat dibuat guru walaupun sederhana.
Tujuannya :
Memperjelas materi yang disampaikan, karena siswa melihat secara langsung.
Menarik siswa sehingga penbelajaran lebih hidup dan dinamis.
Sebagai sarana untuk menambah pemahaman siswa tentang materi mata pelajaran, terutama media yang berupa permainan.
Media yang dapat dibuat misalnya kartu permainan perkalian. pembagian dan pengurangan. Angka gabus berwarna (matematika), fuzel IPA, PP IPA, kartu permainan IPA (IPA), PP IPS, mata angin, gambar, denah (IPS), kartu berpasangan, papan sinonim/antonim (B. Indonesia). Prinsip utama dari pembuatan alat peraga adalah dengan media maka pembelajaran lebih bermakna dan menggairahkan.
Pembelajaran sambil bermain
Kegiatan ini amat tergantung pada gurunya. Pembelajaran tidak harus selalu serius, siswa duduk manis semua di meja, mendengarkan ceramah guru dengan tidak boleh melirik kiri dan kanan. Sebenarnya dimungkinkan pembelajaran dengan mengadopsi berbagai permainan yang sering dilihat oleh anak-anak di TV seperti kuis siapa aku, tebaklah, siapa berani dll.
Selain itu guru bisa mengembangkan metode ini berdasarkan pengalaman di lapangan. Contohnya dalam pelajaran B. Indonesia, mengadakan permainan tebak kata, di mana setiap siswa menyiapkan kata yang telah dipahami artinya, kemudian dia mengemukakan huruf awal sambil menyebutkan ciri-cirinya. Permainan peribahasa, dengan cara melanjutkan peribahasa yang telah diucapkan siswa lain, apabila ada yang salah maka, dia maju ke depan untuk bernyanyi (nasyid).
Begitu banyak bentuk permainan yang dapat dilakukan oleh guru, dan kesemuanya bertujuan untuk lebih menarik siswa dalam pembelajaran.
PENUTUP
Inovasi pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dan mesti dimiliki atau dilakukan oleh guru. Hal ini disebabkan karena pembelajaran akan lebih hidup dan bermakna. Berbagai inovasi tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi kepada siswa agar lebih giat dan senang belajar.
Seperti yang telah dipaparkan, pada hakekatnya sifat inovasi itu amat relatif, dalam arti inovasi yang kita lakukan sebenarnya barangkali sudah tidak asing bagi orang lain. Tetapi sebagai seorang guru yang setiap hari berinteraksi dengan anak, maka tidaklah salah apabila terus-menerus melakkukan inovasi dalam pembelajaran.
Kemauan guru untuk mencoba menemukan, menggali dan mencari berbagai terobosan, pendekatan, metode dan sistem pembelajaran merupakan salah satu penunjang akan munculnya berbagai inovasi-inovasi baru yang segar dan mencerahkan.
Penulis memandang, tanpa dibarengi kemauan dari guru untuk selalu berinovasi dalam pembelajarannya, maka dimungkinkan pembelajaran akan dirasa menjenuhkan oleh siswa. Di samping itu, guru tidak akan terkembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Inovasi akhirnya menjadi sesuatu yang harus dicoba untuk dilakukan, sesederhana apapun.

Jumat, 06 April 2012

Obyek Wisata Hutan Sancang Garut Selatan



Masyarakat tempo dulu cukup arif menggunakan hutan. Hutan sebagai sandaran kehidupan, tempat bertani dan berburu satwa diakui keberadaannya. Bentangan hutan masih lestari sampai puluhan tahun. Mereka tidak sekedar memahami pentingnya hutan untuk ketersediaan air dan udara. Tapi hutan ada dalam hatinya berwujud kepercayaan sakral. Jangankan pohonnya ditebang, beberapa hutan bahkan dilarang dimasuki. Istilah pamali dan hutan larangan cukup ampuh mencegah pembalakan hutan.

Ada semacam keyakinan bahwa roh para raja bersemayam di hutan. Misalnya Prabu Siliwangi yang menjelma menjadi macan putih konon bersemayam di hutan Sancang. Mitologi inilah yang menyebabkan masyarakat tempo dulu menghormati hutan. Tidak semua hutan dibuka dan dimasuki. Banyak hutan besar terlindungi secara alami disebabkan budaya yang dipegang teguh walaupun tanpa aturan tertulis ataupun peraturan daerah seperti sekarang.
Seiring perkembangan jaman, hal itu memang hanya mitos. Sesuatu yang sekedar tahayul dan di luar logika. Namun kemudian timbul pertanyaan di benak kita: Apakah hutan tidak lagi dihormati? Hutan menjadi tak layak dilindungi? Tanahnya dijejak, pohonnya ditebang? Lalu hutan jadi sah untuk dijarah?

Objek wisata hutan Sancang terletak 2 km dari pusat Kecamatan Pameungpeuk, 20 km dari kota Kabupaten Garut dan 180 km dari Bandung. Objek ini dapat dicapai dari dua tempat, yaitu Pameungpeuk dan pantai Cijeruk Indah. Untuk mencapai ke sana, dari Pameungpeuk pengunjung dapat menggunakan bus ke jurusan perkebunan karet Mira-Mare yang rutenya melalui pinggir kawasan dengan tarif Rp. 3.000/orang, atau angkot dengan tarif Rp. 4.000/orang. Apabila menggunakan ojeg, tarifnya Rp. 7.500 dari Pameungpeuk dan Rp. 3.500,- dari pantai Cijeruk Indah.

Bus yang melalui daerah ini hanya 3 bus/ hari. Jalan menunju ke hutan ini adalah kelas jalan kecamatan dan dengan lebar jalan 3 m, dan jalan desa selebar 2,5 m, serta jalan setapak (foot trail) selebar 0,5 m. Pada umumnya kondisi jalan dalam keadaan sedang diperbaiki. Diantaranya dalam kondisi rusak, jalan kelas V sepanjang 75 km dengan kondisi rusak. Jembatan berjumlah 5 buah jembatan beton sepanjang 27 m.

Hutan Sancang merupakan hutan alami, dan terletak di bagian selatan Kabupaten Garut, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya. Tepatnya di Desa Sancang Kecamatan Cibalong dan memiliki luas 2.157 ha. Wilayah ini berada di ketinggian 0-3 m di atas permukaan laut. Tebing-tebing curam terdapat di sebagian pesisir pantai, khususnya di daerah sebelah timur yaitu wilayah Karang Gajah.

Hutan yang langsung bersentuhan dengan Samudra Indonesia ini mempunyai temperatur rata-rata 270 C per tahun, dengan suhu antara 170 C-280 C. Material tanahnya berpasir dan tanah gambut di bagian pesisir, sedangkan di daerah yang mempunyai radius 200 m dari garis pantai memiliki material tanah daratan pada umumnya, yaitu tanah hitam berbatu dengan tingkat kestabilan dan daya serap tanah yang cukup baik.

Kondisi lingkungan wilayah Hutan Sancang termasuk ke dalam kategori bentang alam yang baik dan menarik serta unik. Hutan Sancang juga merupakan cagar alam yang dilindungi dan memiliki ekosistem hutan tropis. Kualitas lingkungan dan kebersihannya pun masih terjaga, walaupun di bagian timur, yaitu di pesisir pantai, terdapat pondok nelayan yang menetap dan memanfaatkan lahan di area konservasi ini.

Di hutan ini tidak terdapat pencemaran (air, tanah, udara, sampah atau vandalisme), akan tetapi sering terjadi penebangan liar, perambahan hutan dan penjarahan/pencurian kayu, khususnya kayu meranti merah yang tergolong tumbuhan langka. Perambahan hutan tersebut telah menurunkan tingkat dan kualitas lingkungan Hutan Sancang dan menyebabkan kerusakan yang cukup serius.

Pada saat ini perusakan Cagar Alam Hutan Sancang telah mencapai lebih dari 200 ha. Hal tersebut, juga sangat berpengaruh bagi kelangsungan ekosistem setempat. Apabila dilihat dari segi visabilitas, hutan Sancang memiliki tingkat pandang yang bebas dengan panorama alam yang indah dan eksotis, namun apabila berada di dalam hutannya, maka akan sulit untuk melihat kearah pantai karena susunan tumbuhan/pepohonan di Hutan Sancang sangat rapat.

Daya tarik utama yang terdapat di cagar alam ini adalah hutan yang masih asri dengan ekosistem yang unik dan pemandangan alam indah. Di hutan ini terdapat hutan bakau, sungai, berbagai jenis flora dan fauna, dan gugusan-gugusan batu yang menimbulkan panorama alam yang unik. Flora dominan yang terdapat di Hutan Sancang antara lain pohon ketapang, pohon bakau, tumbuhan Sorea, palahlar (Dipterocarpus spee.div), serta jenis tumbuhan/ flora pantai seperti agar-agar laut (Gracilaria, SP1), trumbu karang (Afluda mutica), paris (Mycrophyllum bracilieneis), kades (Gelidium lam) dan juga flora lain yang beragam jenisnya termasuk pohon meranti merah dan pohon Kaboa (Dipteroearpus gracilis) yang langka. Sedangkan fauna yang dominan di hutan ini antara lain banteng (Bos sonda/cus), macan tutul, monyet, lutung, dan burung merak.

Hutan Sancang yang merupakan salah satu cagar alam di Indonesia yang bertaraf Internasional ini belum tersentuh oleh fasilitas pariwisata secara khusus. Untuk fasilitas penunjang di Hutan Sancang hanya terdapat 1 pos jagawana serta petugas yang berjumlah 180 orang. Untuk aktivitis yang dapat dikembangkan di Hutan ini adalah: tracking, fotografi, menelusuri hutan, penelitian ekosistem alam, memancing, berkemah, dan aktivitas-aktivitas yang tidak merusak dan mengganggu ekosistem hutan.

Adapun mayoritas pengunjung yang datang ke Hutan Sancang ini berasal dari Garut, Bandung dan Jakarta. Landasan hukum kawasan hutan wisata ini ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 116/Um/1959 tanggal 1 Juli dengan luas wilayah laut sekitar 150 ha dan kini dikelola oleh Departemen Kehutanan.

Dulu, selain dikenal keangkerannya. Sancang juga memendam berbagai cerita yang unik. Menurut sumber tradisional, Sancang dahulu kala merupakan wilayah kerajaan. Salah satu penguasanya yang termashur dikenal dengan nama Rakean Sancang. Cerita ini juga didukung oleh beberapa situs purbakala yang diyakini sebagai bekas-bekas peninggalan Kerajaan Sancang.

Hutan Sancang adalah hutan yang dilegendakan sebagai tempat tilem (tempat hilangnya) Prabu Siliwangi. Di hutan ini juga terdapat pohon Kaboa (mirip dengan pohon bakau/Mangrove) yang menurut kepercayaan setempat merupakan penjelmaan para prajurit Pajajaran yang setia kepada Prabu Siliwangi. Oleh karena itu hutan ini dipercaya sebagai hutan keramat yang memiliki daya magis bagi kalangan masyarakat lokal.

Nama Sancang yang tersusun dari huruf-huruf Sancang dipercaya memiliki arti khusus, yaitu :
S mempunyai arti : Sasakala asal usul carita sesepuh urang-urang sadaya, yang berarti Hutan Sancang merupakan tempat asal usul nenek moyang kita semua.
A mempunyai arti: Anu luhur tur ngahiang, yang berarti daerah Sancang adalah daerah keramat dan sejak zaman dahulu sudah dikenal.
N mempunyai arti: Nyata sarta talapakuran tah ku aranjeun manusa, yang berarti Hutan Sancang adalah nyata dan perlu untuk dikaji oleh setiap manusia.
C mempunyai arti: Cacandran carita sesepuh urang sadaya, yang berarti Sancang adalah asal usul cerita tentang nenek moyang kita semua.
A yang kedua mempunyai arti: Aya nya carita Pasundan/ Padjajaran, yang berarti asal-mula dari kerajaan Pasundan dan Padjajaran.
N mempunyai arti: Nagri Padjajaran tilas Siliwangi, yang berarti Hutan Sancang merupakan salah satu wilayah negeri Padjajaran peninggalan Siliwangi.
G mempunyai arti: Goib di Sancang Pameungpeuk Garut, yang berarti Hutan Sancang mempunyai cerita gaib dan setiap manusia harus mempercayai hal-hal yang gaib.
Seperti pada kawasan konservasi umumnya, tidak ada sarana pariwisata di hutan ini, baik yang berupa fasilitas akomodasi ataupun rumah makan, tetapi apabila pengunjung ingin bermalam dapat menggunakan fasilitas akomodasi terdekat yang terletak di Kecamatan Pameungpeuk. Untuk fasilitas rumah makan juga terdapat di Kecamatan Pameungpeuk, sekitar 13 km dari pusat pemerintahan kecamatan.

Namun cerita dari hutan ini yang paling populer tentu saja mitos mengenai harimau (maung) Sancang, atau lebih dikenal sebagai Maung Kajajaden. Cerita tentang Harimau Sancang banyak diyakini bukan cuma isapan jempol. Konon banyak orang yang melihat dengan mata kepala sendiri keberadaan harimau di hutan tersebut. Menurut cerita itu pula, harimau-harimau di Sancang bukanlah sembarang harimau. Hewan itu konon jelmaan dari Prabu Siliwangi - Raja Pajajaran - serta anak buahnya yang ngahiang (menghilang). Mereka kemudian berubah ujud menjadi harimau karena dikejar-kejar oleh Kian Santang, putera Prabu Siliwangi sendiri, karena tidak mau masuk Islam dan dikhitan.

Banyak orang percaya bahwa harimau-harimau itu bisa berubah ujud kembali menjadi manusia. Manusia jadi-jadian ini sering berkeliaran di sekitar Sancang, bahkan ada di antaranya yang memperistri manusia biasa. Yang membedakannya dengan manusia biasa, manusia harimau ini konon katanya tidak memiliki ruruncang (lekukan di bawah hidung).

Yang jelas, hutan ini memang unik. Banyak dari jenis fauna dan flora yang ditemukan di hutan ini sulit ditemukan di tempat lain. Oleh karena itulah, pemerintah melalui Mentri Kehutanan pada 1978 menetapkan hutan Sancang sebagai hutan konservasi (suaka margasatwa) yang dilindungi. Di hutan ini dulu banyak ditemukan merak, julang, banteng, harimau Jawa, dan kancil. Juga ditemukan pohon reunghas dan kaboa yang disinyalir hanya tumbuh di hutan ini. Konon, jika menjelajahi hutan Sancang dan tidak ingin diganggu harimau, kita harus membawa kayu kaboa sebagai jimat pelindung. Bahkan bisa digunakan untuk memanggil harimau kajajaden, dengan cara diketrukkeun kana taneuh, dimana pun kita berada.

Karena keunikannya pula, hutan ini menjadi tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Baik wisatawan yang hendak menikmati keindahan alamnya, maupun wisatawan yang hendak berziarah ke situs-situs purbakala. Sayangnya, keadaan Sancang kini sangat jauh berbeda dengan hutan Sancang yang dulu. Keangkeran hutan ini mulai lenyap seiring dengan banyaknya pepohonan yang ditebang perambah liar. Sebagian lahannya dijadikan ladang pertanian.

Menurut penelitian tahun 2004, hampir setengah dari luas areal hutan Sancang telah hancur. Kekayaan flora dan faunanya banyak yang ikut hilang. Pengunjung jarang menemukan hewan-hewan khas hutan ini karena habitatnya dirusak. Bahkan pernah tersiar kabar banteng sancang sempat ditemukan berkeliaran di perkampungan penduduk. Sancang Ilang dangiang, yang artinya Sancang kehilangan jati dirinya, walaupun upaya-upaya reboisasi terus dilakukan untuk mengembalikan hutan ini seperti keadaannya semula.

Catatan :
Meskipun telah menyisakan pilu, hutan Sancang masih tetap memberikan kenangan yang berharga. 5 jenis primata yang terdapat di pulau Jawa masih dapat kita temukan semuanya di hutan ini. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Lutung Jawa (Trachypitechus auratus), Surili (Presbytis comata), Owa Jawa (Hylobtes moloch) dan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) adalah primata-primata yang hanya terdapat di pulau Jawa (endemik). Primata-primata endemik cenderung cukup rentan terhadap ancaman yang terjadi pada habitatnya. Sehingga diperlukan juga perlindungan terhadap habitatnya. (http://agungsmail.wordpress.com/2008/10/page/4/)

Sumber :
 Dr Rochajat Harun Med
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=15&jd=Objek+Wisata+Hutan+Sancang&dn=20090227095940
27 Februari 2009
http://info-garut-selatan.blogspot.com/

Sumber Gambar:
http://agungsmail.files.wordpress.com/2008/10/lokasi-primata-di-sancang2.jpg
http://sunda.garutkab.go.id/pub/static_menu/detail/sekilas_garut_kini

Masyarakat Garut Selatan Desak Pemekaran Dipercepat









Masyarakat Kabupaten Garut bagian selatan mendesak pemerintah untuk memekarkan wilayahnya. Hal itu menyusul telah disetujuinya pemekaran oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Garut pada 9 Juni 2009 lalu.

“Masyarakat sudah tidak sabar menanti pemekaran Garut Selatan,” ujar Ketua Presidium Masyarakat Garut Selatan, Gunawan Undang, Kamis (3/6).

Menurut Gunawan, lamanya proses pemekaran itu diakibatkan oleh sikap pemerintah Jawa Barat. Gubernur dan Dewan provinsi dinilai lebih mengutamakan pemekaran daerah lain dibandingkan Garut, seperti pemekaran Kabupaten Sukabumi, Bogor Barat dan Pangandaran. Padahal, katanya, proses pemekaran ini telah menginjak tahun keenam.

Lambatnya pemekaran ini juga akan menambah apatis masyarakat terhadap pemerintah. Ditambah lagi dengan masih kurangnya pembangunan infrastruktur di daerah selatan, seperti pembangunan jalan.

Selain itu, jarak ibu kota kabupaten dengan masyarakat di daerah selatan cukup jauh dengan jarak rata-rata mencapai 60 kilometer. “Lihat saja ke selatan tidak ada jalan yang bagus apalagi berstatus jalan nasional,” ujarnya.

Karenanya, Gunawan meminta Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan untuk segera memanggil Bupati Garut Aceng HM Fikri agar segera melakukan ekspos pemekaran. Selain itu, Dewan juga diminta untuk segera membentuk panitia khusus pemekaran.

Mekanisme rencana pembentukan Kabupaten Garut Selatan telah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 yang menyatakan pembentukan suatu daerah harus melalui persetujuan forum Badan Permusyawaratan Desa atau forum kepala desa setempat.

Berdasarkan studi kelayakan tim Universitas Padjajaran Bandung, kata Gunawan, Garut layak untuk dimekarkan. Jumlah 42 kecamatan dan 424 desa di Kabupaten Garut, menyebabkan tidak maksimalnya pelayanan publik dan pembangunan. Oleh karena itu sebanyak 16 kecamatan dengan jumlah penduduk 600.000 jiwa di wilayah selatan layak untuk dimekarkan. “Dengan begitu daerah tertinggal akan semakin berkurang di Indonesia,” ujarnya.

Bupati Garut Aceng HM Fikri mengatakan pemekaran Garut selatan masih dalam proses pembahasan di pemerintah Jawa Barat. Rencana pemekaran ini juga telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2009-2014. “Kita sedang menyiapkan pemekaran ini, apalagi Dewan sudah menyetujuinya,” ujarnya.

Dia menambahkan, sebagai kabupaten induk, fasilitas untuk persiapan pembentukan Kabupaten Garut selatan akan dilakukan selama dua tahun ke depan. Hal itu dilakukan agar setelah dibentuk kabupaten baru tidak malah menimbulkan kemiskinan. “Efek pemekaran harus kita antisipasi dari sekarang,” ujarnya.

SIGIT ZULMUNIR

Sumber :
http://www.tempointeraktif.com/hg/bandung/2010/06/03/brk,20100603-252564,id.html
3 Juni 2010


Sumber Gambar:
> Peta Jawa barat
http://www.bpkp.go.id/unit/Jabar/Peta_administratif_jawa_barat.jpg 
> Peta Garut
http://cisewu.tripod.com/id12.html

> Lanscape Cisewu

http://wicakz.multiply.com/photos/album/104/wicakz_photoworld_maka_tegarlah_seperti_batu_karang

> Kota Cikajang
http://abdidani.files.wordpress.com/2009/09/kec-cikajang11.jpg

> Kebun Teh Cikajang

http://vtrediting.files.wordpress.com/2009/10/perkebunan-teh-21.jpg
> LAPAN Pameungpeuk Luncurkan Roket

http://bagoesnuparenting.blogspot.com/2008_08_01_archive.html
> Pantai Santolo - Pameungpeuk
http://www.wiranurmansyah.com/tag/garut-santolo-pantai-pameungpeuk/
Tampilkan postingan dengan label Berita-Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita-Berita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

Oleh: Fasmawi Saban 
Menarik untuk dicermati, sajian data yang dihimpun oleh Pusat Pengujian Balitbang Depdiknas menunjukkan, bahwa rata-rata NEM SD untuk beberapa mata pelajaran masih rendah (Matematika: 5,2, IPA : 6,17). Untuk SLTP ternyata lebih rendah lagi (Matematika: 5,2 dan IPA: 4,85). Begitu pula laporan dari Reading Literacy Study (1994) sungguh mengejutkan, bahwa kemampuan membaca siswa SD kelas IV di Indonesia berada di urutan kedua dari bawah dari sekitar 30 negara, sementara kemampuan IPA SLTA berada di urutan ke-33 dari 39 negara. (The Third International Mathematics and Science Study – Report, 1995).
Mengkritisi berbagai data dan laporan di atas, maka timbul beberapa pertanyaan dalam benak kita. Bagaimana proses pembelajaran yang selama ini berlangsung? Dan bagaimana pula action ‘sang guru’ kita saat di kelas? Pertanyaan ini mungkin menjadi otokritik, tentang sejauhmana para guru telah melakukan inovasi dalam pembelajarannya.
Ditengarai selama ini, masih banyak guru yang belum melaksanakan tugas mengajarnya dengan optimal. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Dr. Soebagyo Brotosedjati mengatakan, “Hingga kini masih banyak guru yang belum memenuhi standar kualifikasi pendidikan. Padahal salah satu kunci keberhasilan pendidikan terletak pada guru”. Menurut beliau masih ada sekira 47,5 % yang belum memenuhi standar kualifikasi sebagai guru.” (Suara Merdeka : 2002). Kenyataan ini begitu memilukan dan menjadi semacam “pil pahit” bagi dunia pendidikan. Sehingga tentu menjadi wajar sajian data di atas bahwa mutu pendidikan kita masih rendah.
Keberadaan guru dalam suatu proses pembelajaran sesungguhnya memiliki peran dan kedudukan yang signifikan. Dr. George Lozanov, seorang peneliti pendidikan dan tokoh Metode Pembelajaran Cepat dari Bulgaria berujar,” Pengaruh guru sangat jelas dalam kesuksesan siswa” (Lozanov : 1980). Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh pencetus Metode Belajar Quching (quantum teaching), Bobbi de Porter (2002) yang berpendapat bahawa guru itu sebagai penggubah keberhasilan belajar siswa.
Kedua pendapat tokoh tersebut barangkali ada benarnya, siswa akan lebih terkembangkan potensi, bakat dan minatnya manakala guru mampu membimbing dan mengarahkannya. Ketika di kelas, sebenarnya guru dituntut tidak hanya sebagai pen-transfer of knowledge ansich tetapi juga mampu memerankan diri sebagai pewaris nilai, pembimbing, fasilitator, rekan belajar, model, direktur dan motivator (Oemar Hamalik : 2001).
Pemahaman di atas bukan berarti guru sebagai sosok segala-galanya dan amat mendominasi. Siswa tetap diperlakukan sebagai subjek belajar yang memiliki kedudukan penting dalam proses pembelajaran.
Dengan berbagai atribut yanng sedemikian mulia namun sekaligus berat ini, maka menjadi sebuah keniscayaan (sine qua-non) bagi para guru untuk senantiasa melakukan berbagai inovasi dalam pembelajarannya. Kemampuan untuk melakukan inovasi ini tentu saja mensyaratkan sosok guru yang kreatif, produktif, cerdas, komitmen tinggi dan tidak merasa puas dengan keadaan yang sudah ada.

Inovasi Pembelajaran

Ketika mendengar kata inovasi, yang muncul di benak kita barangkali sesuatu yang baru, unik dan menarik. Kebaruan, keunikan dan yang menarik itu pada akhirnya membawa kemanfaatan. Pendapat tersebut nampaknya tidak salah, dalam arti manusia sebagai makhluk sosial yang dinamis dan tak puas dengan apa yang sudah ada akan selalu mencoba, menggali dan menciptakan sesuatu yang ‘ baru ‘ atau ‘ lain ‘ dari biasanya, Begitu pula masalah inovasi yang erat kaitannya dengan proses pembelajaran. Di mana proses pembelajaran melibatkan manusia (baca : siswa dan guru) yang memiliki karakteristik khas yaitu keinginan untuk mengembangkan diri, maju dan berprestasi.
Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi batasan, inovasi sebagai pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik berupa gagasan, metode atau alat (KBBI, 1990 : 330). Dari pengertian ini nampak bahwa inovasi itu identik dengan sesuatu yang baru, baik berupa alat, gagasan maupun metode. Dengan berpijak pada pengertian tersebut, maka inovasi pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu upaya baru dalam proses pembelajaran, dengan menggunakan berbagai metode, pendekatan, sarana dan suasana yang mendukung untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Hasbullah (2001) berpendapat bahwa ‘baru’ dalam inovasi itu merupakan apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi.
Menurut Gagne (1975), setidaknya ada empat fungsi yang harus dilakukan guru kaitannya sebagai motivator. Pertama, arousal function atau membangkitkan dorongan siswa untuk belajar. Kedua, expectancy funtion yaitu menjelaskan secara kongkret kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran. Ketiga, incentive function maksudnya guru memberikan ganjaran untuk prestasi yang dicapai dalam rangka merangsang pencapaian prestasi berikutnya dan keempat, disciplinary function bahwa guru membantu keteraturan tingkah laku siswa.
Keempat fungsi tersebut, selayaknya diperankan dengan tepat oleh guru dalam sebuah proses pembelajaran, sehingga diharapkan motivasi belajar siswa semakin lama akan semakin meningkat dan tinggi.

Contoh dan Bentuk Inovasi yang Sederhana

Perlu disadari bahwa pembelajaran merupakan suatu interaksi yang bersifat kompleks dan timbal-balik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Selayaknya siswa diberi kesempatan yang memadai untuk ikut ambil bagian dan diperlakukan secara tepat dalam sebuah proses pembelajaran.
Ditengarai bahwa dunia anak (baca : TK dan SD) merupakan dunia bermain, tetapi acapkali guru melupakan hal ini. Semestinya setiap guru dalam setiap proses pembelajarannya menciptakan suasana yang menyenangkan (fun), menggairahkan (horee), dinamis (mobile), penuh semangat (ekpresif) dan penuh tantangan (chalenge).
Oleh karena itu berbagai inovasi dapat dicoba untuk dikembannngkan walaupun amat sederhana. Beberapa bentuk inovasi yang sempat penulis cobakan, diantaranya:

Pembuatan yel-yel

Yel-yel ini biasanya dilakukan sebelum pembelajaran dimulai, guru mengajak siswa untuk bersama-sama mengucapkan beberapa yel yang telah diajarkan kepada mereka.
Tujuannya :
1. menumbuhkan semangat belajar siswa.
2. menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
3. mewujudkan hubungan yang akrab antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.
Berbagai variasi yel dapat diciptakan oleh guru, dengan mengubah lagu tertentu yang sudah dihapal siswa serta menggunakan kepalan tangan, suara yang bersemangat, mimik muka serta kekompakan siswa dalam pengucapannya.
Penulis membagi pembuatan yel ini dalam dua bagian, yaitu yel-yel kelas, yang memberi semangat untuk pengkondisian kelas sehingga siswa siap belajar (apersepsi dan motivasi), dan yel-yel mata pelajaran yaitu memberi semangat untuk mengikuti pelajaran tertentu.
Di bawah ini, contoh-contoh yel yang telah dibuat dan dilakukan ketika akan dimulai proses pembelajaran.
Contoh Yel-yel kelas
KELASKU….KELASKU….KELASKU
YANG TERBAIKK… OK ! ALLOHU AKBAR !
AKU ANAK SHOLEH !!!!!!! ……………..
DEDEED….DEDEED…..DEDEED……….ALLOHU AKBAR !
Contoh yel-yel mata pelajaran
Pelajaran Matematika
MATE… MATE… MATIKU……MATEMATIKA
AKU SENANG BEL-LAJAR MATEMATIKA
YES !!!! ALLOHU AKBAR !
Pelajaran IPA
IPAAA….IPAA….IPAAA I PE A
ILMU,,,, PENGETAHUAN,,,, ALAM
IS THE BEST , OH YEE… ALLOHU AKBAR !
Pelajaran IPS
IPSSSSSS… IPSSSSSSSSSS…IPSSSSSSSSSSSS…
I LIKE IT …. I LIKE IT, OH LALA…. OH LALA
ALLOHU AKBAR !
Pelajaran Bahasa Indanesia
BI……….BI…………..BI…………………
WOW KERREEEN………ALLOHU AKBAR !
Semua yel-yel selalu diakhiri dengan lafadz takbir, sambil mengepalkan tangan kanan ke atas. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan nilai kepada siswa bahwa semua yang ada di dunia ini adalah kecil, yang maha besar dan maha angung hanyalah Alloh azza wa zalla, pemilik alam semesta dan pemberi ilmu pengetahuan.
Pemberian Reward
Berdasarkan pangalaman di lapangan, anak kelas bawah (baca : SD) amat senang apabila usaha belajarnya dihargai dan mendapat pengakuan dari guru, walaupun amat sederhana. Oleh karena itu, para guru nampaknya jangan terlalu pelit untuk menberikan penghargaan, selama dilakukan dengan memperhatikan waktu dan cara yang tepat. Penghargaan itu sendiri dapat dimaknai sebagai alat pengajaran dalam rangka pengkondisian siswa menjadi senang belajar.
Tujuannya:
1. mendorong siswa agar lebih giat belajar.
2. memberi apresiasi atas usaha mereka.
3. menumbuhkan persaingan yang sehat antar siswa untuk meningkatkan prestasi
Pemberian penghargaan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dan sesuai kesempatan yang ada. Penulis membaginya dalam beberapa macam, yakni dalam bentuk ucapan, tulisan, barang/benda dan penghargaan khusus. Seyogyanya penghargaan ini dapat menjadi kebanggaan siswa akan eksistensi dirinya, yang nantinya meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi diri.
Penghargaan berupa ucapan.
Pemberian penghargaan ini dapat dilakukan dengan direncanakan terlebih daluhu atau bersifat spontan saja. Yang terpenting bahwa setiap siswa yang menunjukkan suatu usaha, maka layak dihargai. Pemberian pujian bagi siswa yang berpatisipasi aktif dalam proses pembelajaran, seperti kata-kata YESS ! (sambil mengancungkan jempol tangan), Excelent (dua jari membentuk huruf V), Thankyou Very Much (kedua tangan diacungkan ke atas) dll.
Penghargaan berupa tulisan.
Hal ini dapat dilakukan setiap hari, ketika siswa mengerjakan tugas atau PR. Penghargaan ini diberikan dengan cara guru menuliskan di buku catatan atau tugas siswa, berupa kata pujian, terutama bagi siswa yang berhasil mendapat nilai bagus (80-100). Kalimat pujian tersebut diantaranya “ selamat, you are the best student “ , “ Alhamdulillah, kamu anak pintar “ , “ pacu terus prestasimu “ ,
Penghargaan berupa barang/benda
Berbagai benda sebenarnya dapat dijadikan alat penghargaan, baik benda yang sudah ada maupun yang telah dimodifikasi/disiapkan.
Penulis misalnya memberikan penghargaan berupa bintang, terbuat dari kertas karton/asturo berukuran kecil bagi siswa yang mendapat nilai tinggi (80-100) baik latihan soal, tugas maupun PR.
Kalung medali pelajaran, terbuat dari gabus yang menyerupai sebuah medali dengan menggunakan tali warna. Medali dibuat khusus untuk setiap mata pelajaran, dan diberikan kepada siswa setiap selesai ulangan harian. Siswa yang mendapat nilai tertinggi dalam ulangan harian berhak menerima medali.
Sewaktu-waktu tidak ada salahnya apabila guru memberikan penghargaan berupa uang jajan, walaupun dengan nilai nominal yang relatif kecil. Bagi siswa terkadang bukan besar kecilnya uang tetapi kebanggaan mendapatkannya dari guru yang dicintainya.
Penghargaan khusus
Penghargaan ini sifatnya spontan dan insidental, di mana siswa yang berhasil menjawab dengan tepat pertanyaan dari guru dimungkinkan untuk istirahat atau pulang terlebih dahulu.
3. Pemberian sanksi
Dalam sebuah proses pembelajaran perlu ada semacam aturan main (rule of the game). Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik, termasuk perlu adanya sanksi yang disepakati bersama antara guru dengan siswa. Tetapi diupayakan dalam pemberian saknsi ini betul-betul bersifat pedagogis (mendidik).
Tujuannya :
1. terwujudnya kelas yang tertib, namun diupayakan tetap menyenangkan.
2. penanaman disiplin kepada anak.
3. mendidik siswa untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan.
Kotak Soal
Dibuat dari bekas wadah susu atau makanan lain, yang berbentuk segi empat, kemudian dibungkus kertas kado, dengan warna yang menarik ditempel di dinding kelas sejumlah mata pelajaran, sehingga setiap mapel memiliki kotak soal tersendiri.
Tujuannya :
mendorong siswa agar senang mempelajari soal sesuai keinginannya setiap saat.
Memberi kesempatan memanfaatkan waktu luang untuk mempelajari soal-soal.
Soal ini dibuat dengan berbagai bentuk, seperti soal cerita, kuis, siapa aku, tanya jawab, dll. Di tulis di kertas asturo atau kertas lain dengan bentuk yang menarik.

Pokjar (Kelompok Belajar)

Siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa, setiap kelompok dipilih satu ketua yang mampu memimpin dan membantu anggotanya.
Tujuannya :
Matih kerjasama antara siswa
Menanamkan jiwa kepemimpinan dan saling membantu
Terjadi pertukaran pengetahuan dan memungkinkan siswa yang sudah paham mengajari teman lainnya .
Dalam pelajaran tertentu, guru memberikan masalah kemudian siswa mendiskusikanya dalam kelompok. Adapun tempat pengerjaannya diserahkan sepenuhnya pada mereka, asal waktunya ditetapkan dengan jelas. Mereka boleh mengerjakan di kelas (in-door) atau diluar kelas (out-door) seperti perpustakaan, halaman sekolah, aula atau mushola.
Bagi kelompok yang berhasil meraih nilai tertinggi dan paling cepat, akan diberi penghargaan berupa bintang kelompok, yang nantinya ditempel di dinding dengan menggunakan gabus berukuran 100 cm x 75 cm. Gabus tersebut diberi tulisan “ Alhamdulillah, Mamah….. Mamah……….. inilah bintang kelompokku………”.
6. Perpustakaan Kelas
Penanaman kebiasaan membaca harus selalu ditumbuhkan. Kehadiran perpustakaan kelas merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan. Berbagai buku yang bersifat ringan dan dapat menggugah kreativitas siswa bisa dijadikan referensi. Majalah Bobo, Annida, Anak Sholeh, buku cerita, kisah sahabat dan petualangan hewan merupakan pilihan bagi mereka.
Tujuannya :
Menanamkan kebiasaan membaca sejak dini, karena membaca adalah kunci pengetahuan.
Memanfaatkan waktu luang secara baik.
Adapun sumber bukunya dapat diperoleh dari sumbangan siswa sendiri yakni membawa buku bacaan bekas dari rumah, membeli atau sumbangan.

Mading Kelas

Kehadiran majalah dinding (mading) kelas menjadi satu terobosan yang cukup baik. Diantara siswa ada yang dipilih menjadi pengurus mading. Mereka ada yang bertugas sebagai pimpinan redaksi, reporter, ilustrasi atau pencari berita.
Tujuannya :
Menampung hasil karya siswa berupa gambar, cerita/karangan, puisi, atau pengalaman pribadi.
Membiasakan siswa untuk menulis, segala ide, impian dan harapan dapat ditumpahkan dalam karya tulis.
Menumbuhkan semangat belajar dan membaca.
Biasanya siswa akan senang, apabila karyanya dilihat oleh teman-temannya. Hasil karya yang ditempel bisa saja sengaja dibuat oleh siswa di rumah atau hasil tugas mata pelajaran tertentu.
8. Setting Kelas
Untuk sekolah yang full day school kemungkinan besar siswa akan merasa jenuh dan capek berada terus di sekolah atau kelas. Oleh karena itu bagaimana menciptakan ruangan dan suasana kelas yang meminimalisir kejenuhan mereka.
Setting kelas dapat dilakukan oleh guru dengan cara penataan ruangan, pemasangan gambar, tulisan yang memotivasi, warna-warni yang menyolok, hiasan yang menggugah poster dll. Contohnya poster dapat ditempel di dinding kelas. Bunyi poster misalnya, “ BELAJAR ITU MUDAH DAN MENYENANGKAN “, “ MEMBACA MENJADI KEBUTUHANKU “, AKU INGIN MENJADI ANAK PINTAR DAN SHOLEH “, “ BELAJAR ITU IBADAH, BERPRESTASI ITU INDAH.”
Setiap minggu sekali, siswa diperbolehkan untuk berpindah tempat duduknya, sesuai keinginan mereka. Papan tulis, setiap semester sekali dapat dirubah posisinya, sesuai kesepakatan dengan siswa.
Mencatat dengan Peta Pikiran
Hasil temuan mutakhir menunjukan bahwa otak manusia memiliki kehebatan yang luar biasa, ada otak kiri dan otak kanan. Untuk mengembangkan kemampuan otak kanan yang penuh dengan imajinasi, siswa diajarkan cara menulis dengan menggunakan peta pikiran.
Tujuannya :
Mempermudah mengingat/menghapal materi pelajaran.
Menulis sambil menggambar disertai warna akan lebih menarik dan tidak jenuh.
Mengembangkan daya imajinasi dan kreatifitas anak.
Guru harus menyusun terlebih dahulu materinya yang sesuai. Siswa diberi kebebasan untuk mewarnai, menggambar dan membuatnya sendiri.
Penggunaan alat peraga
Alat peraga boleh dikatakan sebagai salah satu pendukung kesuksesan pembelajaran, karena dengan media ini biasanya pembelajaran menjadi lebih menarik. Berbagai media dapat dibuat guru walaupun sederhana.
Tujuannya :
Memperjelas materi yang disampaikan, karena siswa melihat secara langsung.
Menarik siswa sehingga penbelajaran lebih hidup dan dinamis.
Sebagai sarana untuk menambah pemahaman siswa tentang materi mata pelajaran, terutama media yang berupa permainan.
Media yang dapat dibuat misalnya kartu permainan perkalian. pembagian dan pengurangan. Angka gabus berwarna (matematika), fuzel IPA, PP IPA, kartu permainan IPA (IPA), PP IPS, mata angin, gambar, denah (IPS), kartu berpasangan, papan sinonim/antonim (B. Indonesia). Prinsip utama dari pembuatan alat peraga adalah dengan media maka pembelajaran lebih bermakna dan menggairahkan.
Pembelajaran sambil bermain
Kegiatan ini amat tergantung pada gurunya. Pembelajaran tidak harus selalu serius, siswa duduk manis semua di meja, mendengarkan ceramah guru dengan tidak boleh melirik kiri dan kanan. Sebenarnya dimungkinkan pembelajaran dengan mengadopsi berbagai permainan yang sering dilihat oleh anak-anak di TV seperti kuis siapa aku, tebaklah, siapa berani dll.
Selain itu guru bisa mengembangkan metode ini berdasarkan pengalaman di lapangan. Contohnya dalam pelajaran B. Indonesia, mengadakan permainan tebak kata, di mana setiap siswa menyiapkan kata yang telah dipahami artinya, kemudian dia mengemukakan huruf awal sambil menyebutkan ciri-cirinya. Permainan peribahasa, dengan cara melanjutkan peribahasa yang telah diucapkan siswa lain, apabila ada yang salah maka, dia maju ke depan untuk bernyanyi (nasyid).
Begitu banyak bentuk permainan yang dapat dilakukan oleh guru, dan kesemuanya bertujuan untuk lebih menarik siswa dalam pembelajaran.
PENUTUP
Inovasi pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dan mesti dimiliki atau dilakukan oleh guru. Hal ini disebabkan karena pembelajaran akan lebih hidup dan bermakna. Berbagai inovasi tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi kepada siswa agar lebih giat dan senang belajar.
Seperti yang telah dipaparkan, pada hakekatnya sifat inovasi itu amat relatif, dalam arti inovasi yang kita lakukan sebenarnya barangkali sudah tidak asing bagi orang lain. Tetapi sebagai seorang guru yang setiap hari berinteraksi dengan anak, maka tidaklah salah apabila terus-menerus melakkukan inovasi dalam pembelajaran.
Kemauan guru untuk mencoba menemukan, menggali dan mencari berbagai terobosan, pendekatan, metode dan sistem pembelajaran merupakan salah satu penunjang akan munculnya berbagai inovasi-inovasi baru yang segar dan mencerahkan.
Penulis memandang, tanpa dibarengi kemauan dari guru untuk selalu berinovasi dalam pembelajarannya, maka dimungkinkan pembelajaran akan dirasa menjenuhkan oleh siswa. Di samping itu, guru tidak akan terkembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Inovasi akhirnya menjadi sesuatu yang harus dicoba untuk dilakukan, sesederhana apapun.

Jumat, 06 April 2012

Obyek Wisata Hutan Sancang Garut Selatan



Masyarakat tempo dulu cukup arif menggunakan hutan. Hutan sebagai sandaran kehidupan, tempat bertani dan berburu satwa diakui keberadaannya. Bentangan hutan masih lestari sampai puluhan tahun. Mereka tidak sekedar memahami pentingnya hutan untuk ketersediaan air dan udara. Tapi hutan ada dalam hatinya berwujud kepercayaan sakral. Jangankan pohonnya ditebang, beberapa hutan bahkan dilarang dimasuki. Istilah pamali dan hutan larangan cukup ampuh mencegah pembalakan hutan.

Ada semacam keyakinan bahwa roh para raja bersemayam di hutan. Misalnya Prabu Siliwangi yang menjelma menjadi macan putih konon bersemayam di hutan Sancang. Mitologi inilah yang menyebabkan masyarakat tempo dulu menghormati hutan. Tidak semua hutan dibuka dan dimasuki. Banyak hutan besar terlindungi secara alami disebabkan budaya yang dipegang teguh walaupun tanpa aturan tertulis ataupun peraturan daerah seperti sekarang.
Seiring perkembangan jaman, hal itu memang hanya mitos. Sesuatu yang sekedar tahayul dan di luar logika. Namun kemudian timbul pertanyaan di benak kita: Apakah hutan tidak lagi dihormati? Hutan menjadi tak layak dilindungi? Tanahnya dijejak, pohonnya ditebang? Lalu hutan jadi sah untuk dijarah?

Objek wisata hutan Sancang terletak 2 km dari pusat Kecamatan Pameungpeuk, 20 km dari kota Kabupaten Garut dan 180 km dari Bandung. Objek ini dapat dicapai dari dua tempat, yaitu Pameungpeuk dan pantai Cijeruk Indah. Untuk mencapai ke sana, dari Pameungpeuk pengunjung dapat menggunakan bus ke jurusan perkebunan karet Mira-Mare yang rutenya melalui pinggir kawasan dengan tarif Rp. 3.000/orang, atau angkot dengan tarif Rp. 4.000/orang. Apabila menggunakan ojeg, tarifnya Rp. 7.500 dari Pameungpeuk dan Rp. 3.500,- dari pantai Cijeruk Indah.

Bus yang melalui daerah ini hanya 3 bus/ hari. Jalan menunju ke hutan ini adalah kelas jalan kecamatan dan dengan lebar jalan 3 m, dan jalan desa selebar 2,5 m, serta jalan setapak (foot trail) selebar 0,5 m. Pada umumnya kondisi jalan dalam keadaan sedang diperbaiki. Diantaranya dalam kondisi rusak, jalan kelas V sepanjang 75 km dengan kondisi rusak. Jembatan berjumlah 5 buah jembatan beton sepanjang 27 m.

Hutan Sancang merupakan hutan alami, dan terletak di bagian selatan Kabupaten Garut, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya. Tepatnya di Desa Sancang Kecamatan Cibalong dan memiliki luas 2.157 ha. Wilayah ini berada di ketinggian 0-3 m di atas permukaan laut. Tebing-tebing curam terdapat di sebagian pesisir pantai, khususnya di daerah sebelah timur yaitu wilayah Karang Gajah.

Hutan yang langsung bersentuhan dengan Samudra Indonesia ini mempunyai temperatur rata-rata 270 C per tahun, dengan suhu antara 170 C-280 C. Material tanahnya berpasir dan tanah gambut di bagian pesisir, sedangkan di daerah yang mempunyai radius 200 m dari garis pantai memiliki material tanah daratan pada umumnya, yaitu tanah hitam berbatu dengan tingkat kestabilan dan daya serap tanah yang cukup baik.

Kondisi lingkungan wilayah Hutan Sancang termasuk ke dalam kategori bentang alam yang baik dan menarik serta unik. Hutan Sancang juga merupakan cagar alam yang dilindungi dan memiliki ekosistem hutan tropis. Kualitas lingkungan dan kebersihannya pun masih terjaga, walaupun di bagian timur, yaitu di pesisir pantai, terdapat pondok nelayan yang menetap dan memanfaatkan lahan di area konservasi ini.

Di hutan ini tidak terdapat pencemaran (air, tanah, udara, sampah atau vandalisme), akan tetapi sering terjadi penebangan liar, perambahan hutan dan penjarahan/pencurian kayu, khususnya kayu meranti merah yang tergolong tumbuhan langka. Perambahan hutan tersebut telah menurunkan tingkat dan kualitas lingkungan Hutan Sancang dan menyebabkan kerusakan yang cukup serius.

Pada saat ini perusakan Cagar Alam Hutan Sancang telah mencapai lebih dari 200 ha. Hal tersebut, juga sangat berpengaruh bagi kelangsungan ekosistem setempat. Apabila dilihat dari segi visabilitas, hutan Sancang memiliki tingkat pandang yang bebas dengan panorama alam yang indah dan eksotis, namun apabila berada di dalam hutannya, maka akan sulit untuk melihat kearah pantai karena susunan tumbuhan/pepohonan di Hutan Sancang sangat rapat.

Daya tarik utama yang terdapat di cagar alam ini adalah hutan yang masih asri dengan ekosistem yang unik dan pemandangan alam indah. Di hutan ini terdapat hutan bakau, sungai, berbagai jenis flora dan fauna, dan gugusan-gugusan batu yang menimbulkan panorama alam yang unik. Flora dominan yang terdapat di Hutan Sancang antara lain pohon ketapang, pohon bakau, tumbuhan Sorea, palahlar (Dipterocarpus spee.div), serta jenis tumbuhan/ flora pantai seperti agar-agar laut (Gracilaria, SP1), trumbu karang (Afluda mutica), paris (Mycrophyllum bracilieneis), kades (Gelidium lam) dan juga flora lain yang beragam jenisnya termasuk pohon meranti merah dan pohon Kaboa (Dipteroearpus gracilis) yang langka. Sedangkan fauna yang dominan di hutan ini antara lain banteng (Bos sonda/cus), macan tutul, monyet, lutung, dan burung merak.

Hutan Sancang yang merupakan salah satu cagar alam di Indonesia yang bertaraf Internasional ini belum tersentuh oleh fasilitas pariwisata secara khusus. Untuk fasilitas penunjang di Hutan Sancang hanya terdapat 1 pos jagawana serta petugas yang berjumlah 180 orang. Untuk aktivitis yang dapat dikembangkan di Hutan ini adalah: tracking, fotografi, menelusuri hutan, penelitian ekosistem alam, memancing, berkemah, dan aktivitas-aktivitas yang tidak merusak dan mengganggu ekosistem hutan.

Adapun mayoritas pengunjung yang datang ke Hutan Sancang ini berasal dari Garut, Bandung dan Jakarta. Landasan hukum kawasan hutan wisata ini ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 116/Um/1959 tanggal 1 Juli dengan luas wilayah laut sekitar 150 ha dan kini dikelola oleh Departemen Kehutanan.

Dulu, selain dikenal keangkerannya. Sancang juga memendam berbagai cerita yang unik. Menurut sumber tradisional, Sancang dahulu kala merupakan wilayah kerajaan. Salah satu penguasanya yang termashur dikenal dengan nama Rakean Sancang. Cerita ini juga didukung oleh beberapa situs purbakala yang diyakini sebagai bekas-bekas peninggalan Kerajaan Sancang.

Hutan Sancang adalah hutan yang dilegendakan sebagai tempat tilem (tempat hilangnya) Prabu Siliwangi. Di hutan ini juga terdapat pohon Kaboa (mirip dengan pohon bakau/Mangrove) yang menurut kepercayaan setempat merupakan penjelmaan para prajurit Pajajaran yang setia kepada Prabu Siliwangi. Oleh karena itu hutan ini dipercaya sebagai hutan keramat yang memiliki daya magis bagi kalangan masyarakat lokal.

Nama Sancang yang tersusun dari huruf-huruf Sancang dipercaya memiliki arti khusus, yaitu :
S mempunyai arti : Sasakala asal usul carita sesepuh urang-urang sadaya, yang berarti Hutan Sancang merupakan tempat asal usul nenek moyang kita semua.
A mempunyai arti: Anu luhur tur ngahiang, yang berarti daerah Sancang adalah daerah keramat dan sejak zaman dahulu sudah dikenal.
N mempunyai arti: Nyata sarta talapakuran tah ku aranjeun manusa, yang berarti Hutan Sancang adalah nyata dan perlu untuk dikaji oleh setiap manusia.
C mempunyai arti: Cacandran carita sesepuh urang sadaya, yang berarti Sancang adalah asal usul cerita tentang nenek moyang kita semua.
A yang kedua mempunyai arti: Aya nya carita Pasundan/ Padjajaran, yang berarti asal-mula dari kerajaan Pasundan dan Padjajaran.
N mempunyai arti: Nagri Padjajaran tilas Siliwangi, yang berarti Hutan Sancang merupakan salah satu wilayah negeri Padjajaran peninggalan Siliwangi.
G mempunyai arti: Goib di Sancang Pameungpeuk Garut, yang berarti Hutan Sancang mempunyai cerita gaib dan setiap manusia harus mempercayai hal-hal yang gaib.
Seperti pada kawasan konservasi umumnya, tidak ada sarana pariwisata di hutan ini, baik yang berupa fasilitas akomodasi ataupun rumah makan, tetapi apabila pengunjung ingin bermalam dapat menggunakan fasilitas akomodasi terdekat yang terletak di Kecamatan Pameungpeuk. Untuk fasilitas rumah makan juga terdapat di Kecamatan Pameungpeuk, sekitar 13 km dari pusat pemerintahan kecamatan.

Namun cerita dari hutan ini yang paling populer tentu saja mitos mengenai harimau (maung) Sancang, atau lebih dikenal sebagai Maung Kajajaden. Cerita tentang Harimau Sancang banyak diyakini bukan cuma isapan jempol. Konon banyak orang yang melihat dengan mata kepala sendiri keberadaan harimau di hutan tersebut. Menurut cerita itu pula, harimau-harimau di Sancang bukanlah sembarang harimau. Hewan itu konon jelmaan dari Prabu Siliwangi - Raja Pajajaran - serta anak buahnya yang ngahiang (menghilang). Mereka kemudian berubah ujud menjadi harimau karena dikejar-kejar oleh Kian Santang, putera Prabu Siliwangi sendiri, karena tidak mau masuk Islam dan dikhitan.

Banyak orang percaya bahwa harimau-harimau itu bisa berubah ujud kembali menjadi manusia. Manusia jadi-jadian ini sering berkeliaran di sekitar Sancang, bahkan ada di antaranya yang memperistri manusia biasa. Yang membedakannya dengan manusia biasa, manusia harimau ini konon katanya tidak memiliki ruruncang (lekukan di bawah hidung).

Yang jelas, hutan ini memang unik. Banyak dari jenis fauna dan flora yang ditemukan di hutan ini sulit ditemukan di tempat lain. Oleh karena itulah, pemerintah melalui Mentri Kehutanan pada 1978 menetapkan hutan Sancang sebagai hutan konservasi (suaka margasatwa) yang dilindungi. Di hutan ini dulu banyak ditemukan merak, julang, banteng, harimau Jawa, dan kancil. Juga ditemukan pohon reunghas dan kaboa yang disinyalir hanya tumbuh di hutan ini. Konon, jika menjelajahi hutan Sancang dan tidak ingin diganggu harimau, kita harus membawa kayu kaboa sebagai jimat pelindung. Bahkan bisa digunakan untuk memanggil harimau kajajaden, dengan cara diketrukkeun kana taneuh, dimana pun kita berada.

Karena keunikannya pula, hutan ini menjadi tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Baik wisatawan yang hendak menikmati keindahan alamnya, maupun wisatawan yang hendak berziarah ke situs-situs purbakala. Sayangnya, keadaan Sancang kini sangat jauh berbeda dengan hutan Sancang yang dulu. Keangkeran hutan ini mulai lenyap seiring dengan banyaknya pepohonan yang ditebang perambah liar. Sebagian lahannya dijadikan ladang pertanian.

Menurut penelitian tahun 2004, hampir setengah dari luas areal hutan Sancang telah hancur. Kekayaan flora dan faunanya banyak yang ikut hilang. Pengunjung jarang menemukan hewan-hewan khas hutan ini karena habitatnya dirusak. Bahkan pernah tersiar kabar banteng sancang sempat ditemukan berkeliaran di perkampungan penduduk. Sancang Ilang dangiang, yang artinya Sancang kehilangan jati dirinya, walaupun upaya-upaya reboisasi terus dilakukan untuk mengembalikan hutan ini seperti keadaannya semula.

Catatan :
Meskipun telah menyisakan pilu, hutan Sancang masih tetap memberikan kenangan yang berharga. 5 jenis primata yang terdapat di pulau Jawa masih dapat kita temukan semuanya di hutan ini. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Lutung Jawa (Trachypitechus auratus), Surili (Presbytis comata), Owa Jawa (Hylobtes moloch) dan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) adalah primata-primata yang hanya terdapat di pulau Jawa (endemik). Primata-primata endemik cenderung cukup rentan terhadap ancaman yang terjadi pada habitatnya. Sehingga diperlukan juga perlindungan terhadap habitatnya. (http://agungsmail.wordpress.com/2008/10/page/4/)

Sumber :
 Dr Rochajat Harun Med
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=15&jd=Objek+Wisata+Hutan+Sancang&dn=20090227095940
27 Februari 2009
http://info-garut-selatan.blogspot.com/

Sumber Gambar:
http://agungsmail.files.wordpress.com/2008/10/lokasi-primata-di-sancang2.jpg
http://sunda.garutkab.go.id/pub/static_menu/detail/sekilas_garut_kini

Masyarakat Garut Selatan Desak Pemekaran Dipercepat









Masyarakat Kabupaten Garut bagian selatan mendesak pemerintah untuk memekarkan wilayahnya. Hal itu menyusul telah disetujuinya pemekaran oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Garut pada 9 Juni 2009 lalu.

“Masyarakat sudah tidak sabar menanti pemekaran Garut Selatan,” ujar Ketua Presidium Masyarakat Garut Selatan, Gunawan Undang, Kamis (3/6).

Menurut Gunawan, lamanya proses pemekaran itu diakibatkan oleh sikap pemerintah Jawa Barat. Gubernur dan Dewan provinsi dinilai lebih mengutamakan pemekaran daerah lain dibandingkan Garut, seperti pemekaran Kabupaten Sukabumi, Bogor Barat dan Pangandaran. Padahal, katanya, proses pemekaran ini telah menginjak tahun keenam.

Lambatnya pemekaran ini juga akan menambah apatis masyarakat terhadap pemerintah. Ditambah lagi dengan masih kurangnya pembangunan infrastruktur di daerah selatan, seperti pembangunan jalan.

Selain itu, jarak ibu kota kabupaten dengan masyarakat di daerah selatan cukup jauh dengan jarak rata-rata mencapai 60 kilometer. “Lihat saja ke selatan tidak ada jalan yang bagus apalagi berstatus jalan nasional,” ujarnya.

Karenanya, Gunawan meminta Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan untuk segera memanggil Bupati Garut Aceng HM Fikri agar segera melakukan ekspos pemekaran. Selain itu, Dewan juga diminta untuk segera membentuk panitia khusus pemekaran.

Mekanisme rencana pembentukan Kabupaten Garut Selatan telah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 yang menyatakan pembentukan suatu daerah harus melalui persetujuan forum Badan Permusyawaratan Desa atau forum kepala desa setempat.

Berdasarkan studi kelayakan tim Universitas Padjajaran Bandung, kata Gunawan, Garut layak untuk dimekarkan. Jumlah 42 kecamatan dan 424 desa di Kabupaten Garut, menyebabkan tidak maksimalnya pelayanan publik dan pembangunan. Oleh karena itu sebanyak 16 kecamatan dengan jumlah penduduk 600.000 jiwa di wilayah selatan layak untuk dimekarkan. “Dengan begitu daerah tertinggal akan semakin berkurang di Indonesia,” ujarnya.

Bupati Garut Aceng HM Fikri mengatakan pemekaran Garut selatan masih dalam proses pembahasan di pemerintah Jawa Barat. Rencana pemekaran ini juga telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2009-2014. “Kita sedang menyiapkan pemekaran ini, apalagi Dewan sudah menyetujuinya,” ujarnya.

Dia menambahkan, sebagai kabupaten induk, fasilitas untuk persiapan pembentukan Kabupaten Garut selatan akan dilakukan selama dua tahun ke depan. Hal itu dilakukan agar setelah dibentuk kabupaten baru tidak malah menimbulkan kemiskinan. “Efek pemekaran harus kita antisipasi dari sekarang,” ujarnya.

SIGIT ZULMUNIR

Sumber :
http://www.tempointeraktif.com/hg/bandung/2010/06/03/brk,20100603-252564,id.html
3 Juni 2010


Sumber Gambar:
> Peta Jawa barat
http://www.bpkp.go.id/unit/Jabar/Peta_administratif_jawa_barat.jpg 
> Peta Garut
http://cisewu.tripod.com/id12.html

> Lanscape Cisewu

http://wicakz.multiply.com/photos/album/104/wicakz_photoworld_maka_tegarlah_seperti_batu_karang

> Kota Cikajang
http://abdidani.files.wordpress.com/2009/09/kec-cikajang11.jpg

> Kebun Teh Cikajang

http://vtrediting.files.wordpress.com/2009/10/perkebunan-teh-21.jpg
> LAPAN Pameungpeuk Luncurkan Roket

http://bagoesnuparenting.blogspot.com/2008_08_01_archive.html
> Pantai Santolo - Pameungpeuk
http://www.wiranurmansyah.com/tag/garut-santolo-pantai-pameungpeuk/